1. Profil Perusahaan:
PT Dipasena Citra Darmaja didirikan pada 23 Oktober 1987 dan pada tahun yang sama, telah diberikan konsesi pertama untuk mengembangkan 16.250 hektar lahan pasang surut yang sebelumnya tak berpenghuni di Propinsi Lampung, Sumatera Selatan. Perusahaan menyelesaikan konversi lahan menjadi fasilitas akuakultur yang terintegrasi dengan 18.064 tambak (sebanyak 3.613 hektar areal budidaya) dan infrastruktur pendukung termasuk 1.300 kilometer kanal inlet dan outlet. Perusahaan ini juga mengembangkan fasilitas penyimpanan pengolahan dan dingin di tempat yang sama dan mulai proses udang pada tahun 1990. PT. Perusahaan mengakuisisi pabrik pengolahan pakan udang, PT. Bestari Indoprima in November 1996.. Pada tahun 1992, perusahaan mulai mengekspor udang ke Amerika Serikat dan menerima izin dari Food and Drug Administration (FDA) Departemen Amerika Serikat untuk produk yang harus diimpor tanpa penahanan otomatis pada tahun 1993.
Pada bulan Juni 1997, Dipasena Group tumbuh keluar kolam dan fasilitas pengolahan sumber asli situsnya 16.250 hektar dianggap menjadi zona ekspor, memungkinkan Grup Dipasena untuk mengimpor dan mengekspor produk-produk dari daerah ini tanpa harus membayar pajak atau tugas, dan juga berarti bahwa semua produk yang dihasilkan di situs harus diekspor. Semua penjualan udang Dipasena Group berada melalui distributor dengan siapa hubungan telah dipertahankan dalam 10 tahun terakhir. Kelompok Usaha Dipasena menyadari implikasi lingkungan dan sosial yang berkaitan dengan kegiatan budidaya udang dan untuk meminimalkan dampak kegiatannya terhadap lingkungan. Dua pemecah gelombang sekitar 300 m dibangun untuk mengurangi lumpur dan polutan dari memasuki saluran inlet, yang digunakan untuk mendapatkan air laut dari laut. Grup juga mempertahankan sabuk hijau mangrove antara 4-700 m lebar di sepanjang garis pantai. mangrove yang melindungi pantai dari erosi dan membantu menjaga kualitas air dengan menyerap beberapa nutrisi limbah.. Kelompok Usaha Dipasena dipelihara sekitar 24.233 hektar hutan Bakau juga memberikan habitat bagi banyak spesies krustasea dan sirip ikan.

2. Scope Bidang Usaha
Pada awal tahun 1990-an, sebuah megaproyek industri budi daya udang yang pertama dan terbesar dibangun di Indonesia. Proyek berskala besar ini menggunakan konsep tambak inti rakyat (TIR) dan menghimpun puluhan ribu tenaga kerja. Tambak modern ini kemudian dikenal dengan PT Dipasena Citra Darmaja (DCD), yang kini berganti nama menjadi PT Aruna Wijaya Sakti. DCD membangun tambak di areal konsesi seluas 16.250 hektar dari 30.000 hektar cadangan yang diberikan Pemda Provinsi Lampung dengan 16 blok. Investasi DCD memang tidak tanggung-tanggung. Selain membangun tambak, kawasan yang semula berupa rawa, juga ditata menjadi tujuh areal infrastruktur seluas 753.28 hektar dan sebuah infrastruktur Tata Kota seluas 1.000 hektar. DCD juga membangun dermaga ekspor khusus untuk pengapalan udang segar ke mancanegara. Kawasan yang belakangan populer dengan nama "Bumi Dipasena", berubah menjadi kota pantai yang mentereng, lengkap dengan berbagai prasarana dan sarana perkotaan. Selain infrastruktur tambak juga dibangun sarana penunjang aktivitas usaha tambak udang. Seperti, jalan, perumahan karyawan, pasar lokal, koperasi, lapangan olah raga, tempat ibadah dan fasilitas penting perusahaan seperti perkantoran, pabrik pakan dan gudang pakan, instalasi pendingin (cold storage), koperasi, dan lain-lain. Sejak adanya DCD di Provinsi Lampung, sumbangan devisa yang diberikan dari tahun 1995 hingga 1998 selalu meningkat. Pada tahun 1991, mereka memproduksi 1.873 ton udang windu yang melonjak menjadi 11.068 ton pada 1994. Setahun kemudian naik menjadi 16.250 ton. Ekspor udang sebagian besar dilempar ke pasaran Jepang, Amerika Serikat dan sebagian negara-negara Eropa. Citra Indonesia di mata dunia, pada tahun 1997, sempat terangkat sebagai produsen udang terbesar kedua di dunia. Kontribusi yang tidak sedikit, bahkan boleh dibilang sangat besar, diberikan oleh tambak udang terpadu DCD.

3. Permasalahan yang timbul terkait bidang hukum industri
PT Dipasena Citra Darmaja adalah salah satu dari tiga perusahaan yang diserahkan pengutang kakap Sjamsul Nursalim sebagai bagian dari Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham (PKPS) Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) sebesar Rp 28,4 triliun. Saat diserahkan, tambak udang ini dinilai konsultan sebesar Rp 19 triliun. Namun, setelah terjadi konflik antara petambak (plasma) dengan Sjamsul (inti), operasi tambak ini berhenti dan nilainya merosot drastis.
Tim Bantuan Hukum (TBH) BPPN berdasarkan pada surat PT Tunas Sepadan Investama (perusahaan induk penampung aset Sjamsul) tertanggal 13 Oktober 1999 menyimpulkan aset Sjamsul senilai Rp 27,4 triliun telah merosot tinggal Rp 6,3 triliun. Dipasena pun anjlok dari Rp 20 triliun menjadi Rp 5,2 triliun.
Ini disebabkan utang petambak yang dijaminkan, berpotensi dan bahkan ada yang sudah macet. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) menyebutkan hutang para petambak yang ketika itu jumlahnya 9033 itu berkisar antara Rp 500 juta hingga Rp 1 Miliar. Padahal, saat akad kredit tahun 1989, mereka hanya berhutang Rp 135 juta. Mengenai anjloknya nilai Dipasena, BPPN tetap berpegangan pada hasil audit awal seluruh aset yang dilakukan BPK. Ditambah hasil uji tuntas keuangan auditor Ernts & Young yang justru menemukan kelebihan nilai sebesar US$ 1,3 juta.
Pemenang tender penjualan 78 persen saham PT Gajah Tunggal Tbk dan 20,4 persen saham GT Petrochem dalam Program Penjualan Aset Investasi (PPAI) BPPN tahap ketiga, Garibaldi Venture Fund Ltd bersedia meneken perjanjian penghapusan utang PT Dipasena Citra Darmaja dan Perusahaan Induk PT Tunas Sepadan Investama sebesar Rp 12 triliun.
Masalah penghapusan utang Dipasena berkaitan dengan rencana pemberian surat keterangan lunas (SKL) kepada pengutang kakap Sjamsul Nursalim. Dia menyerahkan aset Gajah Tunggal, Dipasena sebagai bagian PKPS Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) senilai Rp 28,4 triliun. Berdasarkan laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Sjamsul sudah menyerahkan tiga perusahaan induk senilai Rp 27,49 triliun. Aset tersebut yaitu GT Petrochem Group senilai Rp 5,358 triliun, GT Tire Group senilai Rp 2,175 triliun dan PT Dipasena Citra Darmaja senilai Rp 19,961 triliun.
Utang Dipasena sendiri berawal dari adanya penyaluran dana dari GT Petrochem ke Dipasena antara tahun 1999 sampai 2002 sebesar Rp 1,2 triliun. Dana tersebut digunakan untuk biaya operasional Dipasena agar tidak berhenti sama sekali. Antara lain untuk pembayaran gaji, pajak, dan biaya operasional lainnya.
Uang itu juga dikucurkan karena saat itu BPPN tidak mempunyai dana untuk menyalurkan ke Dipasena. Berdasarkan perjanjian MSAA (Master of Settlement and Acquisition Agreement) yang diteken Sjamsul, manajemen mempunyai kewajiban untuk mengambil langkah-langkah apapun agar aset tersebut tidak rusak.
Juli 2003, Badan Penyehatan Perbankan Nasional melakukan rehabilitasi terhadap tambak udang terbesar di Asia Tenggara, PT Dipasena Citra Darmaja guna meningkatkan nilai perusahaan tersebut.
Dalam program rehabilitasi itu, saat ini sudah bisa diatasi masalah kesejahteraan, komersialisasi produksi udang, serta keamanan di kawasan tambak. Kondisinya sudah jauh berbeda dengan situasi ketidakpastian di masa sebelumnya. Bahkan, seluruh atau delapan tambak udang di Lampung sudah bisa beroperasi kembali. Februari 2004 lalu, Bank Mandiri pernah menyatakan akan mengucurkan kredit ke kepada usaha tambak PT Dipasena Cipta Darmaja (Dipasena) senilai Rp.500 miliar. Pada April 2004, PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) akan membantu 11 ribu petani tambak udang Dipasena untuk mendapatkan pembiayaan kembali maksimal sebesar Rp 1,1 triliun. Pembiayaan tersebut merupakan hasil penggabungan utang lama dan tambahan utang baru. Pembiayaan kembali tersebut akan dilakukan jika petambak atau plasma membutuhkan modal kerja tambahan sebagai bagian dari ekspansi perusahaan.

4. Dampak Yang Terjadi Pada:
a. Kelanjutan usaha
Setelah sekian lama menunggu akhirnya pemerintah memberi respon positif terhadap tuntutan para petambak, melalui perusahaan pengelola aset (ppa) pt dipasena ditawarkan secara terbuka kepada para investor yang akhirnya dimenangkan oleh recapital advisor milik dua karib, Sandiaga Uno dan Rosan Perkasa Roeslani setelah mengalahkan beberapa pesaing lainnya. Diakhir oktober 2005 Pahlawan baru untuk ribuan petambak dan karyawan pt dipasena ini menyanggupi persyaratan yang diajukan pemerintah berupa kewajiban membayar dana talangan dan beberapa opsi tentang kepemilikan saham, bayangan tentang kehidupan yang lebih layak tergambar jelas diraut wajah anak-anak bangsa bumi dipasena. Namun senyum itu tak bertahan lama, 1 maret 2007 persis tujuh tahun sejak kejadian mencekam yang menewaskan dua orang anggota brimob dan satu orang petambak, recavital advisor melepas pt dipasena kembali ke pangkuan pemerintah. Infeksi lambung manajemen dan masalah sistem pencernaan pada hal-hal komlpeksitas yang salah perhitungan membuat recapital advisor harus merelakan dana 700 milyar yang hendak di konversikan menjadi saham.

b. Dampak masyarakat
Penyelesaian sengketa antara petambak plasma dengan perusahaan intinya PT. Dipasena Citra Darmaja makin tidak berujung, menyusul pengusiran para karyawan oleh petambak tanggal 19 September 2001 lalu. Meskipun sudah ada jaminan keamanan dari Polda Lampung, namun hingga kemarin, sekitar 1.300 karyawan masih belum berani bekerja kembali. Maklum, intimidasi dan pengusiran yang mereka alami bukan lagi sekali dua sehingga sudah menimbulkan trauma yang mendalam.
Sebelumnya tanggal 13 September 2001 sudah dicapai kesepakatan damai antara petambak dengan karyawan yang ditandatangani semua pihak yang bertikai di Bandar Lampung. Dalam kesepakatan itu, semua pihak sepakat mematuhi ketentuan yang tertuang dalam naskah kesepakatan dan tidak akan saling mengganggu. Bahkan pihak-pihak yang bertikai akan bekerja sama dengan baik.
Sepekan kemudian keributan kembali terjadi. Kendati kuasa hukum petambak membantah, kliennya yang melakukan intimidasi dan pengusiran, tapi kuat dugaan secara pribadi anggota Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) yang menjadi kliennya ikut terlibat. Apalagi dari awal, P3UW sudah bertekad untuk tidak melanjutkan kemitraan dengan PT. Dipasena Citra Darmaja dan mendesak pemerintah mengambil alih manajemen tambak terpadu terbesar di Asia Tenggara ini.
Apalagi kini pihak-pihak yang terlibat dalam pertikaian sudah makin banyak yang tentunya masing-masing pihak memiliki agenda tersendiri. Kalau sebelumnya yang bertikai hanya inti yang dalam hal ini PT. Dipasena Citra Darmaja dengan P3UW sebagai plasma, maka belakangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) melibatkan diri dengan alasan para karyawan DCD adalah anggotanya.
Menanggapi pengusiran karyawan Dipasena, Ketua Bidang Hukum SPSI Lampung Usman Gumanti berkomentar keras. SPSI mendesak aparat keamanan segera bertindak. Saat ini yang dibutuhkan adalah ketegasan aparat kepolsian. Termasuk Pemda Lampung yang harus segera mengambil tindakan. Jika intimidasi terus berlanjut, SPSI mengancam pihaknya akan mengadu ke badan buruh PBB ILO (International Labour Organization).
Sebelumnya, akhir Maret lalu, pemerintah pusat melalui KKSK (Komite Kebijakan Sektor Keuangan) sudah menyetujui lima pola restrukturisasi tambak Dipasena. Pertama, penghapusan tunggakan bunga utang plasma Rp1,1 triliun. Kedua, porsi utang plasma yang dapat dicicil dari arus kas ditetapkan Rp100 juta per petambak. Atau berkurang dibanding keputusan KKSK per 27 April 2000 yang menetapkan Rp135 juta per petambak. Ketiga, utang petambak senilai Rp1,9 triliun yang tak dapat direstrukturisasi dibebankan ke PT. Dipasena Citra Darmaja, tidak dialihkan ke pemegang saham (pemerintah).
Keempat, pemerintah menunjuk financial advisor (penasihat keuangan) yang reputable untuk membantu BPPN dan PT. Dipasena Citra Darmaja mempercepat proses restrukturisasi. Kelima, menetapkan syarat-syarat yang harus dilakukan PT. Dipasena Citra Darmaja. Di antaranya, penetapan pola kemitraan inti-plasma secara transparan dan saling menguntungkan. PT. Dipasena Citra Darmaja juga diminta menunjuk pihak ketiga yang independen guna mengelola kredit petambak plasma dan transaksi dagang antara inti dan plasma.
Dari kebijakan itu tampak bahwa sikap pemerintah belum berubah, masih mempercayakan tambak seluas 9.600 ha yang terhampar di muara Sungai Mesuji itu kepada PT. Dipasena Citra Darmaja yang menurut petambak sudah tidak mungkin dilanjutkan lagi. Oleh sebab itulah dalam safari unjukrasa petambak yang terakhir ke Jakarta, awal Mei lalu mereka menuntut kepada BPPN agar pemerintah segera mengambil alih pengelolaan pertambakan itu. Itulah barangkali kenapa tambak yang mulai dibuka sejak 11 Agustus 1988 di atas lahan 16.200 ha tetap masih kisruh. Padahal kasus itu sudah mencuat ke permukaan sejak Oktober 1999 silam.
Ketidakransparan pertikaian petambak dengan PT. Dipasena Citra Darmaja tidak akan sekacau sekarang sekiranya, dari awal pihak inti tidak arogan dan berlaku transparan dalam berbisnis dengan mitranya. Sejak dibuka hingga kini, belum satu pun dari sekitar 9.000 petambak yang sudah melunasi utangnya. Sebagaimana diakui sejumlah petambak, dengan beban kredit investasi (KI) Rp70-Rp80 juta dan kredit modal kerja (KMK) Rp30—Rp50 juta seharusnya utang sudah lunas paling lama enam tahun, dari tahun 1988 hingga 1994 dengan rata-rata setoran udang ke inti 2 ton per tahun pada harga Rp20 ribu/kg (rata-rata harga udang kurun 1988-1994) berjumlah Rp4 juta.
Perhitungannya, total pinjaman Rp120 juta ditambah dengan beban bunga 15 persen per tahun selama enam tahun Rp108 juta. Hasil penjualan udang selama enam tahun yakni 6 kali Rp4 juta berjumlah Rp240 juta. Tapi petambak tidak bisa memonitor perkembangan kreditnya, termasuk nilai setoran setiap habis panen karena selama menjadi mitra PT. Dipasena Citra Darmaja kepada mereka tidak pernah diberikan laporan rekening tahunan kredit.
Bahkan akte perjanjian kredit pun mereka tidak memiliki. Hanya sewaktu hendak menjadi plasma, kepada mereka disodori berkas yang harus mereka tandatangani. Hingga 10 tahun kemudian, justru utang petambak bukannya berkurang, malah berlipat ganda. Sebagaimana dilaporkan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) bulan April 2000, rata-rata utang pokok petambak mencapai Rp135 juta, di luar bunga. Lalu pertanyaannya sekarang.

c. Pendapatan Asli Daerah [PAD]
Sejak beroperasinya PT. Dipasena Citra Darmaja di Lampung, sumbangan devisa dari tahun 1995-1998 selalu meningkat. Kontribusi nyata telah dilakukan PT. Dipasena Citra Darmaja untuk mengangkat citra Indonesia dimata pelaku bisnis internasional dimulai lewat panen perdana pada tahun 1990. Tercatat devisa negara yang disumbangkan oleh Dipasena mencapai 3 juta dolar AS. Tahun 1991, mampu membukukan sebesar 10 juta dolar AS. Disusul 30 juta dolar AS pada tahun 1992. Dan puncaknya pada tahun 1995 hingga 1998 menghasilkan 167 juta dolar AS. Kemudian pada tahun 1991 terjadi peningkatan produksi sebesar 1 ton udang windu yang melonjak menjadi 11.068 ton pada 1994. Setahun kemudian naik menjadi 16.250 ton. Pasar ekspornya pun meliputi Jepang, AS dan negaranegara di Eropa. Citra Indonesia di mata dunia, pada tahun 1997, sempat terangkat sebagai produsen udang terbesar kedua di dunia.
Sub-Sektor Perikanan Indonesia merupakan sub-sektor yang tetap mengalami pertumbuhan dimasa krisis ekonomi yang dialami Indonesia dalam 3 tahun terakhir ini. Dengan nilai ekspor diatas US$ 1,6 Milyar setahun dengan pertumbuhan rata-rata 3,1% pertahun, menjadikan sub-sektor perikanan salah satu subsektor yang membantu perekonomian Indonesia dimasa krisis. Ekspor komoditi perikanan bertumpuh pada dua jenis komodoti utama, yaitu udang dan kelompok ikan laut seperti tuna, cakalang dan tongkol. Komoditi udang sangat berperan dalam peningkatan ekspor sub-sektor perikanan, karena mempunyai kontribusi 60% dari total nilai ekspor sub-sektor perikanan dengan nilai ekspor diatas satu milyar dolar Amerika setahun. Ekspor Udang Indonesia sampai saat ini masih sangat mengandalkan pada pasar Jepang dengan nilai ekspor US$ 635.174.000 dan kontribusinya sebesar 62,9% dari total ekspor udang Indonesia di tahun 1998.
Ekspor Udang Indonesia merupakan 12,1% dari total ekspor udang dunia dengan permintaan pasar dunia senilai US$ 11 milyar setahun. Industri Udang Indonesia sangat didominasi oleh nelayan penangkap udang di laut, petambak udang rakyat dan pengusaha kecil tambak udang, dengan total produksi sebesar 394.198 ton ditahun 1997 dan 53,8% dari total produksi merupakan hasil tangkapan udang.
Nilai total ekspor Provinsi Lampung bulan Maret 2011 mencapai US$ 281,93 juta atau mengalami kenaikan US$ 81,39 juta (40,59 %) dibandingkan ekspor Februari 2011. Jika dibandingkan dengan Maret 2010, naik US$ 119,96 juta (74,07 %) dari senilai US$ 161,97 juta. Lima golongan barang utama mengalami peningkatan nilai ekspor pada Maret 2011 dibandingkan Februari 2011 adalah kopi, teh, rempah-rempah naik US$ 39,61 juta; lemak & minyak hewani/nabati US$ 29,45 juta; olahan dari buah-buahan/sayuran US$ 6,35 juta; daging dan ikan olahan US$ 4,24 juta; dan Karet dan barang dari karet US$ 2,54 juta.
Lima golongan barang utama lainnya mengalami penurunan nilai ekspor pada Maret 2011 dibandingkan Februari 2011. Penurunan ekspor terbesar terjadi pada golongan barang bubur kertas/pulp turun US$ 7,62 juta; kakao / coklat US$ 6,22 juta; bahan kimia organik US$ 1,85 juta; ikan dan udang US$ 1,76 juta; dan kayu, barang dari kayu US$ 0,02 juta. Nilai ekspor Maret 2011, terutama lemak dan minyak hewan/nabati; kopi, teh, dan rempah-rempah; ikan dan udang; dan bubur kertas/pulp; mempunyai kontribusi yang relatif besar yaitu masing-masing sebesar 24,54 %; 22,06 %; 7,04 %; dan 6,36 % dari total ekspor Maret 2011 Provinsi Lampung. Peranan keempat golongan tersebut mencapai 59,99 % dari total nilai ekspor pada periode yang sama.
Negara tujuan utama ekspor Maret 2011 yaitu ke negara Amerika yang mencapai US$ 37,98 juta, diikuti China, Jepang dan Taiwan masing-masing sebesar US$ 25,69 juta, US$ 25,17 juta dan US$ 17,84 juta dan peranan keempatnya mencapai 37,84 % terhadap total ekspor pada bulan tersebut.

d. Dampak teknologi
Sosialisasi tentang teknologi budidaya yang mencoba menerapkan water close sistem dan module base sebagai solusi memperkecil kerugian akibat penyakit, menyisakan masalah sosial dan lingkungan yang hingga kini belum juga teratasi. PT CPP menghendaki pembuatan tandon penampungan air yang akan digunakan untuk mensterilisasi air dan mengolah kualitas air yang digunakan untuk berbudidaya. Mengorbankan empat petak tambak disetiap jalurnya sebagai lahan pembuatan kolam penampungan yang berarti juga membuat dua kepala keluarga harus rela dipindahkan ke tempat lain yang masih kosong di areal Bumi Dipasena, meski meninggalkan bermacam permasalahan namun para petambak plasma menerima dengan lapang dada demi kondisi budidaya yang lebih baik. Dan kenyataan yang terjadi sekarang pond treatment (tandon penampungan air) tak lebih hanya sebagai tempat penampungan dan sterilisasi standart (pemberian diklorvos sebagai crustacide tanpa memikirkan efek keberlanjutan) yang terus menaikkan tarif pemakaian tanpa adanya upaya pemeliharaan atau perbaikan jasa pengolahan air.
Gemuruh alat berat mulai terdengar memperdalam saluran-saluran air mengiringi keikhlasan para petambak untuk menutup sebagian besar mata pencarian mereka semenjak ditinggal oleh samsul nursalim, mereka tak lagi boleh mencari ikan di saluran air dengan memasang bubu, tanaman sayuran harus rela tertimbun endapan lumpur, dan bersiap meninggalkan kerjaan sampingan lainnya untuk lebih konsentrasi pada proyek rehabilitasi tambak mereka masing-masing. Setengah blok dari keseluruhan 16 blok mulai dikerjakan oleh pahlawan Dipasena yang baru ini, dijadwalkan revitalisasi akan rampung dalam 16-18 bulan. Sebuah rencana baru yang membuat ribuan karyawan dan petambak menaruh harapan besar pada PT CPP untuk merubah nasib mereka yang terkatung-katung selama ini. Terlepas dari nasib sedih sebagian karyawan yang di PHK sepihak dan sebagian lagi yang dideportasi ke lahan jagung.
Puluhan truk container bermuatan plastik tambak mulai berdatangan, begitu pula dengan sarana budidaya lainnya seperti kincir air dan kompa submersible. Dan hampir semua pekerjaan lapangan yang berkaitan dengan proyek revitalisasi ini diserahkan pada kontraktor dengan tujuan untuk menekan biaya operasional seminimal mungkin, tak sedikit kontraktor yang merugi akibat ditinggal para pekerjanya sebab estimasi biaya untuk upah pekerja ditentukan dari hasil opname dan audit fisik selama beberapa hari kemudian dibagi rata-rata. Sehingga upah yang diterima oleh para pekerja setelah di potong oleh kontraktor untuk pajak dan lain-lain jauh dari jumlah upah minimum regional bahkan tak cukup untuk biaya hidup sehari-hari di Bumi Dipasena yang terkenal serba mahal. Hal ini pula lah yang menjadi salah satu faktor proyek revitalisasi mulai berjalan lambat.

5. Kesimpulan dan saran
Kesimpulan adalah sebagai berikut:
 PT. Dipasena Citra Darmaja merupakan perusahaan berskala dunia yang bergerak di bidang pembibitan udang ekspor terbesar di Indonesia dan menyumbangkan pendapatan daerah Lampung terbesar di sector perikanan.
 PT. Dipasena Citra Darmaja mulai merosot setelah terjadi krisis moneter yang menimpa kawasan Asia khusunya di Indonesia, dan akhirnya perusahaan ini dijual melalui lelang terbukadan akhirnya pemerintah memutuskan Konsorsium Neptune sebagai pemenang tendernya, dimana Konsorsium Neptune juga masih di bawah PT. Central Proteinaprima (Chakroen Phokpand Thailand). Sejak saat itu PT Dipasena (PT Aruna Wijaya Sakti) berada di bawah PT Central Proteinaprima (kelompok Chakroen Phokpand Thailand).

Saran adalah sebagai berikut:
Pemda Lampung yang selama ini menjadi mediator pertikaian jangan lagi mengulur-ngulur penyelesaiannya. Sebab diakui atau pun tidak, kasus pertambakan yang terletak di antara Way (Sungai Tulangbawang dengan Way Mesuji, Kabupaten Tulangbawang itu sudah menjadi isu nasional dan menyangkut hajat sekitar hampir 80 ribu jiwa warganya (9.000 petambak dan 7.000 karyawan PT. Dipasena Citra Darmaja di lokasi dan kantor pusat Telukbetung dengan keluarga rata-rata lima jiwa). Selain itu dampaknya terhadap minat investor menanamkan modalnya di Bumi Ruwa Jurai ini tidak bisa diabaikan. Dituntut kearifan Pemda mencari solusi yang sama-sama menguntungkan pihak-pihak yang bertikai.

Pengertian :
Good government adalah suatu kesepakatan menyangkut pengaturan negara yang diciptakan bersama oleh pemerintah, masyarakat madani, dan swasta. Good government juga merupakan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola perusahaan), pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak atau kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu system yang mengatur dan mengendalikan perusahaan.

Maksud dan Tujuan :

Menggunakan dan melaksanakan kewenangan politik, ekonomi dan administratif agar dapat diselenggarakan dengan baik. Oleh sebab itu dalam prakteknya, konsep good government harus ada dukungan komitmen dari semua pihak yaitu negara (state)/pemerintah (government), swasta (private) dan masyarakat (society).

Dasar-dasar Hukum :

1. Transparansi (transparency)
2. Akuntabilitas (accountability)
3. Pertanggungjawaban (responsibility)
4. Independensi (independency)
5. Kesetaraan dan kewajaran (fairness)

Contoh Lokasi :

Penerapan good government pernah terjadi di Indonesia yaitu saat pemerintahan Kabinet Persatuan Nasional Gus Dur –Mega baik dalam pembentukan maupun dalam pelaksanaannya ada pengaruh besar dari pemikiran good government.

Manfaatnya :

1. Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asa transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, serta kesetaraan dan kewajaran.
2. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan.
3. Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.

Uraian yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat :
Pelaksanaan good government yang benar-benar jadi tantangan dari Kabinet Persatuan Nasional ini ialah dengan otonomi Daerah. Bagaimana refunctioning kewenangan-kewenangan pusat daerah. Kemudian reposisi dari para pegawai ke daerah-daerah. Diplot sesuai dengan kemampuan pendanaan daerah baik dari taxing power dan dari tax share.

IKLAN YANG DIPILIH:
IKLAN MIE SEDAAP
Berdasarkan iklan yang ditonton saya memilih iklan mie sedaap, karena iklan ini sangat unik, selain itu iklan mie sedaap menjadi fenomenal mengingat iklan indomie yang selalu menguasai iklan mie instant selama satu dasawarsa ini. Pada awal Mie Sedaap diluncurkan, produk tersebut berhasil mengambil 12% pangsa pasar Indofood dalam jangka waktu yang belum genap setahun. Strategi awal Mie Sedaap salah satunya adalah berada di harga pasaran yang sangat ekonomis namun bumbu mi yang diberikan kelas premium. Untuk memperoleh hasil tersebut Wingsfood melakukan waktu lebih dari 2 tahun mulai dari melakukan riset hingga menemukan rasa formula yang pas dan berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Dengan mulai memasuki pasar kelas menengah bawah namun tetap menawarkan kualitas istimewa, diharapkan Mie Sedaap dapat dengan mudah memasuki pasar kelas menengah atas sehingga akhirnya nanti dapat menguasai seluruh pangsa pasar. Dengan masih besarnya peluang pasar mi instan, persaingan untuk merebut pasar pun semakin ketat. Di tengah persaingan antar-produsen yang semakin ketat saat ini tentu saja membuat produsen berharap untuk mendapatkan suatu keunggulan kompetitif. Salah satu pendekatan yang secara langsung dapat mempengaruhi sikap konsumen terhadap produk adalah melalui iklan. Iklan merupakan salah satu instrumen pemasaran modern yang aktivitasnya didasarkan pada konsep komunikasi. Karena merupakan bentuk komunikasi maka keberhasilannya dalam mendukung program pemasaran merupakan pencerminan dari keberhasilan komunikasi.

PERBANDINGAN IKLAN MIE SEDAAP DAN INDOMIE:
Tingginya tingkat persaingan mi instan, harus dapat membuat setiap perusahaan untuk tidak hanya mempengaruhi konsumen tetapi juga meyakinkan konsumen untuk tetap membeli produk yang ditawarkan. Sebagian besar konumen saat ini ternyata memilih iklan Mie Sedaap dan merasa yakin membeli Mie Sedaap setelah melihat iklannya.
Pangsa pasar mie instan yang selama ini dikuasai oleh Indomie, mulai digoyang sejak kehadiran mie sedaap, walau jelas masih unggul namun di pasar nasional persentase keunggulannya mulai berkurang, hal ini tentu yang menjadi perhatian pihak Indofood, walaupun Indomie sudah punya keunggulan yakni brand image yang telah melekat di pikiran masyarakat.
Mie sedaap sendiri mempunyai keunggulan dari harganya yang lebih murah, kalau soal rasa setiap konsumen mempunyai penilaian tersendiri karena tentu saja mempunyai selera rasa yang berbeda. Yang menarik dari pertarungan antara indomie vs mie sedaap, adalah
karena pertarungan itu merupakan bagian dari pertarungan antara Salim
group vs Wings group.

  1. Pikiran, dengan mengasah pikiran,diharapkan daya ingat menjadi tajam dan kreatif, berwujud menjadi cepat berpikir, sisitimatis dan terarah pada tujuan.
  2. Perasaan, akan berkembang menjadi lapang dan leluasa,memiliki jiwa besar, sehingga tumbuh daya energi yang agresif, berani, sabar dan penuh perhitungan dalam menguji perasaan orang lain.
  3. Pertimbangan, seorang wirausaha perlu mempunyai kecakapan untuk memberikan perimbangan pertimbangan ke arah lancarnya proses pembicaraan.
  4. Sikap, Sikap yang serius dibubuhi dengan humor pada tempatnya,maka seorang wirausaha sudah menempatkan dirinya untuk mendapatkan perhatian.
Sumber: http://fpk.unair.ac.id/webo/kuliahpdf/BAB%20IV%20%5BCompatibility%20Mode%5D.pdf

  1. Metode paksaan sangat tepat dilaksanakan oleh mentor/coach kepada orang yang ingin maju tetapi tidak menyadari potensi raksasa di dalam dirinya.
  2. Metode persuasi tepat untuk menumbuhkan motivasi wirausahawan yang belum banyak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang kewirausahaan.
  3. Metode stimulasi akan lebih baik, bila diterapkan pada subjek yang sudah memahami permasalahan kewirausahaan.

  1. Profit (keuntungan), Bebas dari standar upah untuk pekerjaan yang distandarisasi. Wirausahawan gajinya tidak ditentukan orang lain, iai menemukan sendiri besarnya untuk dirinya sendiri.
  2. Independence (bebas, merdeka, mandiri), bebas dari supervisi (arahan, kendali) dan aturan birokrasi organisasi perusahaan. wirausahawan adalah orang mandiri, mengatur, melaksanakan konsep/ide ataupun pekerjaan atas prakarsa dan aturan yang dibuat sendiri. ia bahkan membuat aturan dan melakukan supervisi bagi karyawannya.
  3. Satisfying way of life (kepuasan hidup), bebas dari pekerjaan-pekerjaan rutin yang membosankan tanpa tantangan.

Seorang wirausahawan dapat diidentifikasi memiliki sejumlah sifat, di antaranya berdisiplin, berkomitmen tinggi, jujur, kreatif dan inovatif, mandiri, serta realistis. Disiplin bermakna dalam melaksanakan kegiatan, wirausahawan harus memiliki ketepatan komitmen terhadap tugas dan pekerjaan secara menyeluruh antara lain ketepatan terhadap waktu, peningkatan kualitas pekerjaan, dan sistem kerja. Dengan kedisiplinan terhadap komitmen, wirausahawan akan selalu berupaya meningkatkan kualitas pekerjaan dan membangun keunggulan daya saing. Oleh karena itu, wirausahawan selalu menjaga untuk tetap memiliki kedisiplinan yang tinggi terhadap sistem kerja yang ditetapkan. Salah satu contohnya adalah selalu melakukan dan menjalankan kesepakatan yang telah dibuat. Dalam hal memiliki komitmen tinggi, harus disadari bahwa komitmen adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam melaksanakan kegiatan, wirausahawan harus memiliki komitmen yang konkret, terarah, dan progresif (berorientasi pada kemajuan). Komitmen terhadap diri sendiri dapat dilakukan dengan proses mengidentifikasi cita-cita dan target yang harus dicapai dalam hidup. Wirausahawan selalu berupaya teguh menjaga komitmen terhadap konsumen untuk mendapatkan kepercayaan mereka, sehingga kepuasan konsumen pada akhirnya memberi keuntungan usaha. Kejujuran merupakan landasan moral wirausahawan. Kejujuran dalam berperilaku pada kehidupan yang bersifat kompleks, kejujuran mengenai karakteristik produk dan jasa yang ditawarkan, kejujuran mengenai promosi yang dilakukan, dan kejujuran terhadap segala kegiatan terkait dengan penjualan produk. Wirausahawan juga harus memiliki daya kreativitas tinggi yang dilandasi oleh cara berpikir yang maju dengan gagasan baru yang inovatif. Gagasan kreatif tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk, ataupun waktu. Justru sering kali ide jenius memberi terobosan baru dalam dunia usaha yang awalnya dilandasi oleh berbagai gagasan kreatif yang kelihatannya mustahil. Sebagai wirausahawan juga harus melakukan keinginan yang baik tanpa bergantung pada pihak lain dalam mengambil keputusan atau bertindak, termasuk mencukupi kebutuhan hidup dengan mengacu pada budaya perusahaan. Wirausahawan juga selalu berpikir realistis dengan kemampuan menggunakan fakta dan realitas sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/perbuatan. Untuk menjadi wirausahawan sukses, syarat utamanya adalah memiliki jiwa dan watak kewirausahawan yang sangat dipengaruhi oleh ketekunan, kemampuan, atau kompetensi yang ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman usaha.
Oleh Prof. Dr. Sukamdani S. Gitosardjono
Pendiri Grup Sahid
Sumber: http://www.smecda.com/deputi7/BERITA%20KUKM/get8.asp?id=732

  1. Tujuan yang berkelanjutan; Seorang wirausahawan tidak hanya puas terhadap pencapaian tujuan, melainkan senantiasa membuat tujuan baru untuk menantang diri mereka.
  2. Ketekunn; ketabahan dalam mencapai suatu tujuan.
  3. Pengetahuan atentang bisnis; Seorang wirausahawan harus mengerti prinsip-prinsip dasar tentang bagaimanasuatu bisnis dapat bertahan dan berhasil.
  4. Mengatasi kegagalan; Kegagalan adalah hambatan-hambatan sementara terhadap pencapaian tujuan.
  5. Upaya diri; Percaya bahwa anda mengontrol kesuksesan atau kegagalan sehingga upaya yang serius sangat diperlukan untuk mencapai tujuan.
  6. Mengambil Resiko adalah biasa; Kemampuan untuk menilai resiko dan menimbang bahaya; lebih menyukai resiko yang besar namun realistik untuk mencapai tujuan.
  7. Memecahkan masalah; Kemampuan untuk memecahkan masalah secara efektif dengan banyak akal.
  8. Inisiatif; Wirausahawan adalah individu yang aktif, yang ingin melakukan ide mereka sesegera mungkin sehingga mereka dapat segera melihat hasilnya.
  9. Energi; Stamina yang tinggi diperlukan untuk memenuhi kemempuan menjalankan bisnis.
  10. Kemauan untuk berkonsultasi dengan para ahli; keinginan untuk mencari bantuan orang lain diperlukan untuk mencapai tujuan.
  11. Kesehatan fisik; Kesehatan sangat penting untuk mengimbangi tuntutan dan tekanan yang ditimbulkan dari bisnis anda, terutama pada tahun-tahun awal.
  12. Kesehatan mental dan emosi; Jam kerja yang panjang dan tekanan bisnis menuntut kestabilan emosi anda.
  13. Toleransi terhadap ketidakpastian; Ketidakpastian harus diterima sebagai bagian penting dari bisnis.
  14. Memanfaatkan masukan; Keahlian untuk mencari dan memanfaatkan masukan atas penampilan diri dari tujuan bisnis.
  15. Bersaing dengan standar buatan sendiri; Kecenderungan untuk membuat standar penampilan yang realistik dan berupaya memenuhi standar tersebut.
  16. Mencari tanggung jawab pribadi.
  17. Percaya diri; Percaya diri yang realistik terhadap diri anda dan kemampuan anda untuk mencapai tujuan bisnis atau tujuan pribadi.
  18. Kepandaian; Mampu mengatasi banyak hal atau tugas secara efektif pada saat bersamaan.
  19. Keinginan untuk tidak tergantung; Wirausahawan yang berhasil biasanya terlahir bukanlah seorang yang dapat bekerja sama.
  20. Memanfaatkan imajinasi positif; Kemampuan berimajinasi tentang tujuan adalah ciri khusus dari wirausahawan yang sukses.
  21. Pencapaian tujuan; Perasaan adanya suatu misis, memotivasi para wirausahawan memulai bisnis.
  22. Obyektif; Kemampuan untuk berlaku objektif sangat diperlukan untuk mencapai tujuan yang realistik.
  23. Berorientasi pada tujuan; Keinginan untuk menghadapi tantangan dan mencoba batas kemampuan.
  24. Fleksibel; Mau menerima perubahan, mampu menyesuaikan persepsi terhadap tujuan dan kegiatan berdasarkan informasi baru.
  25. Keinginan untuk mencipta.
  26. Keterlibatan jangka panjang; Kesepakatan terhadap proyek jangka panjang dan tujuannya membutuhkan pengorbanan pribadi.
  27. Komitmen; Dedikasi terhadap tujuan tanpa di ganggu atau dihalangi; modifikasi terhadap tujuan dapat terjadi, tetapi tujuan utama masih dipertahankan.
  28. Inovasi; Kemampuan dan keinginan untuk menemukan hal-hal yang baru.
  29. Gambaran jangka panjang; Pemahaman akan tujuan jangka panjang sehingga setiap langkah dalam rencana bisnis dapat dilihat dalam konteks.
  30. Pandangan positif.
  31. Pengetahuan teknis dan industri; Pengertian menyeluruh tentang industri dan produk atau jasa yang dihasilkan oleh bisnis; akses untuk menghubungi ahli dalam bidang tersebut.
  32. Hubungan antar manusia; Kemampuan untuk memperoleh dana jika diperlukan.
  33. Akses pada sumber keuangan; Kemampuan untuk memperoleh dana jika diperlukan.
  34. Hasrat terhadap uang; Bagaimana menggunakan uang dengan sebaik-baiknya dan bijaksana.
  35. Kemampuan berfikir; Seorang wirausahawan harus mempunyai sifat ingin tahu dan berusaha berfikir secara efektif.
  36. Kemampuan menjual; Kemampuan untuk meyakinkan orang lain terhadap nilai produk atau jasa yang ditawarkan.
  37. Kemampuan untuk berkomunikasi: Kemampuan untuk menggunakan kata-kata yang efektif, mudah dimengerti dan dipahami.
  38. Keberanian; Kemauan untuk bertindak atas pendirian sendiri untuk mengatasi masalah dan hambatan.
  39. Umur; Tidak ada umur ideal untuk memulai bisnis, meskipun penting untuk memiliki cukup pengalaman hidup, mawas diri, dan kepercayaan diri.
  40. Latar belakang keluarga; Wirausahawan yang sukses sering mempunyai pasangan, orang tua, atau keluarga dekat yang menjalankan bisnisnya dan memberikan dukungan.
  41. Latar belakang suku; Suku yang suka bermigrasi mempunyai dorongan yang lebih kuat untuk menjadi wirausaha yang berhasil.Latar belakang pekerjaan; Kecenderungan kesulitan bekerjasama dengan orang lain dalam jangka waktu tertentu karena kepribadian yang kreatif, frustasi mendapat perintah dari pihak lain.
  42. Latar belakang pendidikan; Pendidikan yang tinggi tidak menjamin seseorang mempunyai jiwa wirausaha yang baik.

  1. Dream (mimpi) : Memiliki visi masa depan dan kemampuan mencapai visi tersebut.
  2. Decisiveness (ketegasan) : Tidak menangguhkan waktu dan membuat keputusan dengan cepat.
  3. Dors (pelaku) : Melaksanakan secepat mungkin.
  4. Determination (ketetapan hati) : Komitmen total, pantang menyerah.
  5. Dedication (dedication) : Berdedikasi total, tak kenal lelah.
  6. Devotion (kesetiaan) : Mencintai apa yang dikerjakan.
  7. Details (terperinci) : Menguasai rincian yang bersifat kritis.
  8. Destiny (nasib) : Bertanggung jawab atas diri sendiri.
  9. Dollars (uang) : Kaya bukan motivator utama, uang lebih berarti sebagai ukuran kesuksesan.
  10. Distribute (distribusi) : Mendistribusikan kepemilikan usahanya kepada karyawan kunci yang merupakan faktor penting bagi kesuksesan usahanya.

  1. Mau kerja keras (capacity for hard work)
  2. Bekerjasama dengan orang lain (getting things done with and through people)
  3. Penampilan yang baik (good appearance)
  4. Yakin (self confidence)
  5. Pandai membuat keputusan (making sound decision)
  6. Mau menambah ilmu pengetahuan (college education)
  7. Ambisi untuk maju (ambition drive)
  8. Pandai berkomunikasi (ability to communicate)
Sumber: wardoyo.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/.../Kewirausah

Kompetensi perlu dimiliki oleh wirausahawan seperti halnya profesi lain dalam kehidupan, kompetensi ini mendukungnya ke arah kesuksesan. Dan & Bradstreet business Credit Service (1993 : 1) mengemukakan 10 kompetensi yang harus dimiliki, yaitu:
  1. Knowing your business, yaitu mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Dengan kata lain, seorang wirausahawan harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau bisnis yang akan dilakukan.
  2. Knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar pengelolaan bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengenalikan perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadministrasikan, dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti memahami kiat, cara, proses dan pengelolaan semua sumberdaya perusahaan secara efektif dan efisien.
  3. Having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang sempurna terhadap usaha yang dilakukannya. Dia harus bersikap seperti pedagang, industriawan, pengusaha, eksekutif yang sunggung-sungguh dan tidak setengah hati.
  4. Having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya bentuk materi tetapi juga rohani. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu, cukup uang, cukup tenaga, tempat dan mental.
  5. Managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan / mengelola keuangan, secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannnya secara tepat, dan mengendalikannya secara akurat.
  6. Managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin. Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya.
  7. Managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan / memotivasi, dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.
  8. Statisfying customer by providing high quality product, yaitu member kepuasan kepada pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat dan memuaskan.
  9. Knowing Hozu to Compete, yaitu mengetahui strategi / cara bersaing. Wirausaha harus dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weaks), peluang (opportunity), dan ancaman (threat), dirinya dan pesaing. Dia harus menggunakan analisis SWOT sebaik terhadap dirinya dan terhadap pesaing.
  10. copying with regulation and paper work, yaitu membuat aturan / pedoman yang jelas tersurat, tidak tersirat. (Triton, 2007 :137 – 139)
Sumber: wardoyo.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/.../Kewirausah

Sikap dan Perilaku sangat dipengaruhi oleh sifat dan watak yang dimiliki oleh seseorang. Sifat dan watak yang baik, berorientasi pada kemajuan dan positif merupakan sifat dan watak yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan agar wirausahawan tersebut dapat maju/sukses. Gooffrey G. Meredith (1996; 5-6) mengemungkakan ciri-ciri dan watak kewirausahaan seperti berikut:



Pendapat lain M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993; 6-7 ) mengemungkakan
delapan karakteristik yang meliputi :
  1. Memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya.
  2. Lebih memilih risiko yang moderat.
  3. Percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil
  4. Selalu menghendaki umpan balik yang segera
  5. Berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh ke depan
  6. Memiliki semangat kerja dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik.
  7. Memiliki ketrampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah
  8. Selalu menilai prestasi dengan uang.
Sumber: entrepreneur.gunadarma.ac.id/e.../039_Kewirausahaan.pdf


  1. Miliki Mimpi: Bermimpilah jadi pengusaha sukses, punya uang banyak, bisa liburan ke luar negeri dan tempat-tempat eksoktis, atau tak perlu memikirkan pekerjaan lagi karena sudah punya banyak uang. Semua kesuksesan berdasar dari mimpi. Jadi, jangan takut berkhayal atau bermimpi.
  2. Obesi dan Hobi: Jadi, yang Anda lakukan memiliki jiwa, nyawa, dan nilai. Semua yang dilakukan dengan hati, pasti akan lebih lancar dijalankan.
  3. Lihat Kenyataan: Setelah berkhayal, kembalilah ke realita. Kepala boleh di langit, tetapi kaki harus tetap menjejak bumi. Mulailah dari yang anda punya, dan jangan membandingkan dengan milik orang lain.
  4. Buat Rencana Bertahap: Mulailah membuat rencana bertahap. Buatlah kondisi dari nol dengan satu syarat, selalu melihat ke depan. Misalnya, tak punya uang tapi punya modal kemampuan. Lakukan bertahap, perlahan, sesuai kemampuan. Jika dilakukan dengan benar, lambat laun keuntungan akan mengikuti Anda.
  5. Susun Berbagai Rencana: Ketika usaha mulai berjalan, jangan hanya memiliki satu rencana saja. Buat juga rencana B, C, atau D. Jangan menunggu orang datang, tapi harus menjemput bola dan tawarkan kemudahan lain.
  6. Buat Anggaran: Jika usaha sudah berjalan, buat anggaran pengeluaran dan pemasukan dengan rapi. Pisahkan antara pemasukan dan pengeluaran dari gaji suami atau istri untuk biaya sehari-hari, dengan hasil usaha. Sebaiknya, uang dipecah ke dalam dua rekening bank, dan jangan masuk ke dompet, agar tidak boros dan mudah melihat laba yang didapat.
Sumber: Noverita K. Waldan (www.ilmu-marketing.co.cc/2009/02/tips-berwirausaha-bagi-pemula.html)

  1. Kreativitas: Jika anda ingin menjadi seorang wirausaha yang sukses maka hal ini harus selalu menjadi prioritas anda. Anda harus kreatif memilih usaha yang akan anda jalankan. Lebih baik pilihlah usaha baru yang belum ada ataupun jika anda ingin menjalankan usaha yang telah banyak diusahakan oleh orang banyak maka anda harus membuat perbedaan.
  2. Tekad Baja dan Tahan banting: Untuk berwirausaha anda juga harus memiliki tekad baja. Jika anda ingin sukses berwirausaha anda harus pantang menyerah. Ingat berwirausaha berbeda dengan bekerja di perusahaan. Ini membutuhkan kesabaran untuk terus berinovasi sebelum akhirnya menjadi mesin pencetak uang anda. Tekad baja untuk terus menambah pengetahuan, berinovasi dan memperbaiki kualitas produk atau jasa yang dijual akan membuat anda sampai pada sukses.
  3. Modal: Mungkin anda akan terheran mengapa modal tidak menduduki posisi jawara dalam kunci sukses berwirausaha. Tentulah seorang wirausaha harus memiliki pengetahuan berwirausaha yang kita kategorikan kreativitas setelah itu tentunya tekad baja untuk terus maju. Namun jika Anda ingin sukses berwirausaha maka anda harus melihat budget Anda terlebih dahulu.
  4. Mencintai pekerjaan: Telah banyak terbukti bahwa hobi yang awalnya digeluti seseorang akhirnya malah menjadi profesi yang mendatangkan kesuksesan. Setelah menyikapinya maka hal ini adalah tak lepas dari kecintaannya pada hobinya.
  5. Cerdas dalam mengambil keputusan: Untuk berwirausaha anda harus mempunyai leardership yang baik, seperti cerdas dalam mengambil keputusan. Anda harus pintar mempelajari pasar usaha yang sedang anda tekuni. Teruslah perhatikan "Kebutuhan Konsumen". Selain itu seorang wirausaha harus cerdas mengambil keputusan dalam memperlebar sayap usahanya. Berwirausaha itu tidak boleh monoton hanya pada itu-itu saja.
Sumber: inspire4soul.blogspot.com/2009/09/5-kunci-sukses-berwirausaha.html

  • Disiplin: Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki kedisiplinan yang tinggi. Arti dari kata disiplin itu sendiri adalah ketepatan komitmen wirausahawan terhadap tugas dan pekerjaannya. Ketepatan yang dimaksud bersifat menyeluruh, yaitu ketepatan terhadap waktu, kualitas pekerjaan, sistem kerja dan sebagainya.
  • Komitmen Tinggi: Komitmen adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki komitmen yang jelas, terarah dan bersifat progresif (berorientasi pada kemajuan). Komitmen terhadap dirinya sendiri dapat dibuat dengan identifikasi cita-cita, harapan dan target-target yang direncanakan dalam hidupnya.
  • Jujur: Kejujuran merupakan landasan moral yang kadang-kadang dilupakan oleh seorang wirausahawan. Kejujuran dalam berperilaku bersifat kompleks.
  • Kreatif dan Inovatif: Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausahawan harus memiliki daya kreativitas yang tinggi. Daya kreativitas tersebut sebaiknya dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada selama ini di pasar.
  • Mandiri: Seseorang dikatakan “mandiri” apabila orang tersebut dapat melakukan keinginan dengan baik tanpa adanya ketergantungan pihak lain dalammengambil keputusan atau bertindak, termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tanpa adanya ketergantungan dengan pihak lain.
  • Realistis: Seseorang dikatakan realistis bila orang tersebut mampu menggunakan fakta/realita sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/ perbuatannya.

Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave, proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk ‘’locus of control’’, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausahawan yang besar. Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang bersal dari individu, seperti ‘’locus of control’’, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembang menjadi kewirausahaan melalui proses yang dipengaruhi lingkungan, organisasi, dan keluarga.
Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Kewirausahaan

Kewirausahaan adalah proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.
Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Richard Cantillon (1775), misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian. Berbeda dengan Cantillon, menurut Penrose (1963) kegiatan kewirausahaan mencakup indentfikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi, sedangkan menurut Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya. Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan.
Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Kewirausahaan

Oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MT

Akhir tahun lalu, Rahmat, seorang teman saya yang ahli dalam pengembangan bisnis telekomunikasi mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan berskala internasional untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Dia tertarik dan memutuskan untuk bergabung. Dia telah banyak mendengar tentang pimpinan perusahaan ini, yang sering diberitakan sebagai pemimpin visionaris dan legendaris.
Gaji Rahmat besar, perlengkapan kantornya mutakhir, teknologinya canggih, kebijakan SDM-nya pro-karyawan, kantornya megah di daerah segitiga emas, Jakarta. Bahkan kantinnya menyajikan makanan yang lezat dan murah. Dua kali dia dikirim keluar negeri untuk pelatihan. “Proses pembelajaran saya adalah yang tercepat di sini,” kata Rahmat. “Sungguh menakjubkan bekerja dengan dukungan teknologi mutakhir seperti di perusahaan ini”. Tambahnya lagi.
Siapa nyana dua minggu lalu, belum genap tujuh bulan bekerja di perusahaan itu, dia mengundurkan diri. Rahmat belum mendapatkan tawaran pekerjaan lain, tapi dia tidak sanggup lagi bertahan di sana. Belakangan, sejumlah karyawan di divisi yang sama dengannya ikut resigned. Direktur utama perusahaan itu pun merasa tertekan karena perputaran (turnover) karyawan sangat tinggi. Cemas memikirkan biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan untuk alokasi dana pelatihan karyawan. Ia juga bingung lantaran tidak tahu apa gerangan yang terjadi. Mengapa karyawan yang bertalenta bagus ini mengundurkan diri, padahal gajinya sudah cukup tinggi?
Rahmat resigned karena beberapa alasan. Alasan ini juga yang menyebabkan sebagian besar karyawan lain yang bertalenta tinggi akhirnya mengundurkan diri. Kepada saya dia mengungkapkan bahwa selama ini hubungan Rahmat dengan atasannya ternyata kurang harmonis dan sering merasa dilecehkan. Dia bertahan selama hampir tujuh bulan hanya untuk melihat apakah dalam selang waktu itu kondisi tersebut dapat diperbaiki.
Beberapa survey membuktikan bahwa jika anda kehilangan karyawan berbakat, periksalah atasan langsung mereka. Si atasan adalah alasan utama karyawan tetap bekerja dan berkembang dalam suatu perusahaan. Namun dia jugalah yang menjadi alasan utama mengapa para karyawan berhenti dari pekerjaannya, membawa pergi pengetahuan, pengalaman dan klien mereka. Bahkan tidak jarang selanjutnya secara terang-terangan berkompetisi dengan perusahaan bekas tempatnya bekerja.
“Karyawan meninggalkan manajernya bukan perusahaannya,“ kata para ahli SDM. Begitu banyak uang yang telah dikeluarkan untuk tetap mempertahankan karyawan berbakat, baik dengan memberikan gaji lebih tinggi, bonus ekstra maupun pelatihan mahal. Namun pada akhirnya, perputaran karyawan kebanyakan disebabkan oleh manajer/pimpinannya, bukan oleh hal lain. Jika anda mengalami masalah turnover, maka pertama-tama periksalah kembali para manajer anda. Apakah mereka biang keladi yang membuat para karyawan tidak betah? Pada tahap tertentu, karyawan tidak lagi melihat jumlah uang yang ia dapatkan, tapi lebih kepada bagaimana mereka diperlakukan dan seberapa besar perusahaan menghargai mereka. Kedua hal ini umumnya tergantung dari sikap para pimpinan terhadap mereka. Dan sejauh ini, bekerja dengan atasan yang buruk sering dialami oleh para karyawan yang bekerja dengan baik. Survey majalah Fortune beberapa tahun lalu mengungkapkan bahwa 75% karyawan menderita karena berada di bawah atasan yang menyebalkan.
Dari seluruh penyebab stress ditempat kerja, seorang atasan yang jahat mungkin adalah hal yang terburuk,yang secara langsung akan mempengaruhi kinerja dan mental para karyawan. Simak saja kisah yang dikutip langsung dari”medan perang” ini. Surya seorang insinyur, masih bergidik saat membayangkan hari-hari dimana ia dimaki-maki bosnya di depan staf lainnya. Atasannya itu sering menghinanya dengan kata-kata yang kasar. Waktu menghadapi hal menakutkan itu, Surya praktis tak punya nyali untuk menjawab. Ia kembali ke rumah dengan perasaan tidak keruan dan mulai menjadi kasar seperti sang atasan. Bedanya kekesalan ini dilampiaskan ke istri dan anak-anaknya, kadang juga ke anjing peliharaannya. Lambat laun, bukan pekerjaan Surya saja yang kacau balau, pernikahan dan keluarganya pun hancur berantakan.
Nasib Bekti juga setali tiga uang. Menceritakan “penyiksaan” yang dilakukan oleh bosnya gara-gara ada perbedaan pendapat yang tidak terlalu penting antara keduanya. Atasan Bekti benar-benar menunjukkan rasa tidak suka terhadapnya. Ia tidak lagi diikut-sertakan dalam pengambilan keputusan. “Bahkan dia tidak lagi memberikan saya dokumen maupun pekerjaan baru,” keluh Bekti. “Sangat memalukan duduk di depan meja kosong tanpa tahu apapun dan tidak seorangpun yang membantu saya”. Lantaran tidak tahan lagi, lalu Bekti mengundurkan diri.
Para ahli SDM mengatakan, dari segala bentuk kekerasan, tindakan memperlakukan karyawan ditempat umum adalah yang terburuk. Pada awalnya, si karyawan mungkin tidak langsung mengundurkan diri, akan tetapi pikiran itu sudah tertanam. Jika kejadian terulang lagi, pikiran tersebut akan semakin kuat. Dan akhirnya, pada kejadian yang ketiga, karyawan itu akan mulai mencari pekerjaan lain. Ketika seseorang tidak bisa membalas kemarahannya, ia akan melakukan pembalasan “pasif”. Biasanya dengan cara memperlambat pekerjaan, berleha-leha, hanya melakukan pekerjaan yang disuruh atau menyembunyikan informasi penting. “Jika anda bekerja untuk orang yang menyebalkan, pada dasarnya anda ingin orang itu mendapat kesulitan. Jiwa dan pikiran kita tidak menyatu lagi dengan pekerjaan kita,” papar Bekti.
Para manajer bisa menekan bawahan melalui beragam cara. Misalnya dengan mengontrol bawahan secara berlebihan, curiga, menekan, terlalu kritis, bawel dan sebagainya. Namun para atasan tersebut tidak sadar bahwa karyawan bukan merupakan aset tetap, mereka adalah manusia bebas. Jika ini terus berlanjut, maka seorang karyawan akan mengundurkan diri, walau tampaknya cuma karena masalah sepele saja.
Bukan pukulan ke-100 yang menjatuhkan seseorang, tapi 99 pukulan yang diterima sebelumnya. Memang benar, karyawan meninggalkan pekerjaannya karena bermacam alasan untuk kesempatan yang lebih baik atau kondisi yang tidak memungkinkan lagi. Namun banyak yang semestinya tetap tinggal jika tidak ada satu orang (seperti atasan Rahmat) yang terus-menerus mengatakan,” Kamu tidak penting, saya bisa dapat lusinan orang yang lebih baik dari kamu!”.
Kendati tersedia segudang pekerja lain (terlebih dalam keadaan pengangguran tinggi sekarang ini), bayangkanlah sesaat, berapa biaya atas hilangnya seorang karyawan yang bertalenta tinggi.. Ada biaya yang harus dibayar untuk mencari pengganti, ada biaya pelatihan bagi pengganti karyawan tersebut. Belum lagi akibat yang ditimbulkan karena tidak ada orang yang mampu melakukan pekerjaan itu saat calon pengganti sedang dicari, kehilangan klien dan kontak yang dibawa pergi karyawan yang hengkang, penurunan moral karyawan lainnya, hilangnya rahasia penjualan dari karyawan tersebut yang seharusnya diinformasikan ke karyawan lainnya, dan yang terutama turunnya reputasi perusahaan. Lagi pula, setiap karyawan yang pergi, bagaimanapun juga akan menjadi”duta” untuk mewartakan hal yang baik maupun yang buruk dari perusahaan itu.
Saya teringat apa yang pernah ditulis oleh Jack Welch mantan orang nomor satu di General Electric, “Setiap perusahaan yang berusaha memenangkan persaingan harus memikirkan cara untuk mengikat jiwa setiap karyawannya,”. Umumnya nilai suatu perusahaan terletak “diantara telinga” para karyawannya. Karyawan juga manusia, punya mata, punya hati.

Penulis adalah dosen Matakuliah perancangan Organisasi di Jurusan tknik Industri Universitas Bung Hatta.

http://www.bunghatta.ac.id/artikel-288-kompensasi-bukanlah-segala-galanya.html

ANALISIS:
Berdasarkan artikel di atas dapat dikatakan bahwa kompensasi yang besar bukanlah suatu jaminan seorang karyawan dapat bertahan di suatu organisasi. Walaupun kompensasi merupakan alasan utama penentu kepuasan karyawan, karena kompensasi merupakan seluruh imbalan yang diterima karyawan atas hasil kerja karyawan tersebut pada organisasi. Kompensasi mengandung tidak sekadar hanya dalam bentuk finansial saja, seperti yang langsung berupa upah, gaji, komisi dan bonus serta tidak langsung berupa asuransi, bantuan sosial, uang cuti, uang pensiun, pendidikan dan sebagainya, tetapi juga bentuk bukan finansial. Bentuk ini berupa pekerjaan dan lingkungan pekerjaan. Bentuk pekerjaan berupa tanggungjawab, perhatian, kesempatan, dan penghargaan, sementara bentuk lingkungan pekerjaan berupa kondisi kerja, pembagian kerja, status dan kebijakan.

Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih tahan terhadap berbagai tekanan, karena punya tempat berpijak dan cara berpikir yang kokoh dan kuat. Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih mampu menghadapi variasi dari situasi pribadi, sosial dan bisnis yang makin ketat dan makin keras belakangan ini. Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih tahan untuk berhadapan dengan orang lain yang makin hari makin kritis. Ingatlah bahwa tekanan yang makin kuat tidak hanya dialami oleh diri Anda sendiri, melainkan juga oleh setiap orang lain yang hidup bersama Anda di dunia ini. Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih mampu menghadapi orang lain yang makin hari makin keras dan bukan tidak mungkin makin menyebalkan. Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih mampu menghadapi berbagai apresiasi yang realistik dan objektif. Pada akhirnya, jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih memiliki kontrol terhadap berbagai situasi dan keadaan yang penting untuk apapun kepentingan Anda.

1. Bicara dengan jelas
Kemampuan berkomunikasi akan berdampak pada bagaimana orang-orang akan memperlakukan Anda. Mereka yang periang biasanya banyak teman, karena ia tahu bagaimana membangun pembicaraan.
2. Punya sesuatu untuk dikatakan
Jangan berpikir bahwa hanya karena Anda berbicara, orang lain pasti mendengarkan. Pastikan bahwa komentar Anda memang ada ‘isinya’. Jangan cuma jadi ‘ember bocor’.
3. Penuh pengertian
Setiap orang punya latar belakang yang berbeda. Jadi, pembicaraan awal biasanya tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai orang lain. Anda bisa saja tidak setuju dengan rekan kerja, tapi masih bisa bekerja sama secara produktif.
4. Pengaruhi orang lain
Dengan pendapat dan opini yang bermutu, Anda telah memberikan ‘warna’ dalam bersosialisasi. Hal ini akan mempengaruhi orang lain dan mereka akan menyukai Anda.
5. Selesaikan setiap masalah
Konflik tidak selalu jelek. Setiap argumentasi bisa dijadikan bahan untuk solusi. Kalau Anda bisa, lakukanlah.
6. Tetap berkepala dingin
Hati boleh panas, kepala harus tetap dingin, sudah biasa terdengar. Jadi, kalau Anda melihat ada orang yang memang senang cari gara-gara, mendingan jauhi saja dia.
7. Jangan takut untuk berubah
Ada orang yang begitu keras kepala sampai ia tak mau berubah meskipun perubahan itu baik. Jangan sampai begitu.
8. Tidak ada “saya” dalam tim
Banyak orang gemar membawa egonya dalam suatu team work. Semoga Anda bukan salah satunya. Jangan pernah lupa untuk memuji pekerjaan orang lain, mereka akan melakukan hal yang sama.
9. Berdirilah di tengah-tengah
Memang agak sulit, apa lagi kalau Anda terlibat langsung. Tapi, paling tidak, Anda punya pendapat yang jernih bila ada suatu konflik. Cobalah ambil jarak dulu, supaya Anda bisa menganalisis sesuatu dengan akurat.
10. Miliki rencana
Seperti apa pun dalam kehidupan, persiapkan diri Anda ketika akan bersosialisasi. Biarpun Anda spontan dan pandai beromongkosong, Anda harus punya patokan dalam proses berpikir ketika melakukan percakapan.